Be brave. Take risks. Nothing can substitute experience. — Paulo Coelho (via kari-shma)
(via anayocroon)
Orang bodoh dikalahkan orang pintar. Orang pintar dikalahkan orang cerdik. Maka, jadilah orang cerdik yang beriman. — D
Dreams Be Dreams by Young Davis / Print
(Source: brain-food, via quote-book)
Find me now. Before someone else does. — Haruki Murakami in 1Q84 (via quote-book)
Love, they say, enslaves and passion is a demon and many have been lost for love. I know this is true, but I know too that without love we grope the tunnels of our lives and never see the sun. — Jeanette Winterson, The Passion (via helplesslyamazed)
(Source: quote-book)
(via happythings)
Sekitar jam setengah 7 pagi, ceritanya saya baru bangun tuh. Seperti biasa, langsung ngecek HP lah. BBM banyak broadcast ga penting, sms pun ga penting. Dan melihat hari ini tanggal 20 Februari, saya jadi mikir, ‘perasaan di tanggal ini ada yg ulang tahun, tapi siapaya?’ Maka saya pun cek facebook via BB dan tidak melihat ada ucapan selamat ulang tahun untuk siapa pun. Jadi lupakan lah. Sekitar siangan, temen SMA saya yang panggil aja Kodok, ngesms pamit mau pulang lagi ke Jogja setelah seminggu di Bandung dan ga sempet ketemuan. Catet: GA SEMPET KETEMUAN. Temen macam apa itu. Oke, saya juga sih yg salah, selama semingguan ini emang sibuk banget sama ujian praktek yang akhirnya selesai hari Jumat. Dan Sabtunya si Kodok itu ada acara dan hari Minggu batal ketemu gara-gara ujan. Sekitar siang menjelang sore, saya sengaja buka internet pake modem ingin sedikit kepo gitu di twitter dan mencari sesuatu yang ingin saya tau lewat google yang pintar itu. Nah iseng juga saya buka facebook, dan munculah nama asli si Kodok birthday list di home page facebook saya. Oke Kodok, selamat ulang tahun. Maaf tanggal ulang tahunnya sempet terlupakan. Semoga Hal-hal baik yang diharapkannya terkabul dan lekas mendapatkan jodoh. Amin. Tuh, kurang baik apa coba gue, pundung-pundung gini sempet ngedoain? Huahaha 
Heran juga sebenernya kenapa bisa lupa ulang tahun temen deket sendiri, padahal biasanya saya hampir ga pernah lupa sama ulang tahun temen-temen deket, dan sebelumnya beberapa waktu yg lalu pun ketika ngobrol di telepon, saya sempat ingat bahwa si Kodok ini ulang tahunnya tanggal 20 Februari ini. Mungkin pengaruh pikiran terlalu fokus sama gimana caranya lulus ujian praktek tanpa remedial yg ribet itu, dan juga pengaruh pundung gara-gara ga sempet ketemu, padahal si Kodok itu seneng-seneng bermain-main di kota nista ini. Hahaha
Ini Bulutangkis, dan ini Indonesia.
Membaca kalimat pertama di resensi belakang sampul novel ini, tentunya saya langsung tertarik untuk membelinya. Sebagai penggemar bulitangkis (atau lebih tepatnya pemimpi menjadi atlet bulutangkis yang ternyata gagal), setengah bagian terakhir dari novel ini cukup menguras emosi saya. Dan saya ucapkan selamat kepada mas Donny Dhirgantoro, yang sukses membuat novel yang maknanya mantap sekali, setelah ‘5cm’-nya (Y).

“Tetapi hari ini saya bilang sama kalian bahwa mimpi kalian yang telah membawa kalian ke sini adalah omong kosong. Bermimpi saja tidak cukup! Saya akan meminta lebih dari omong kosong, khayalan, impian, dan cita-cita kalian.
Ke setiap diri di depan saya… hari ini, saya bilang… jika kamu punya impian, impian besar dan begitu bermakna, kekuatan imajinasi manusia yang luar biasa, tetapi kamu tidak sedikitpun bekerja keras, tidak sedikit pun meneteskan keringat untuk memperjuangkan impian kamu…, buat saya kamu hanyalah pembual nomor satu untuk diri kamu sendiri.
Juga… ke setiap diri di depan saya hari ini, saya bilang…, jangan coba-coba bekerja keras, tetapi tanpa impian, tanpa impian yang membakar diri dan benak kamu setiap hari, berkeringat, lelah, tetapi tanpa makna, melangkah tetapi tanpa tujuan, bangun di pagi hari menyesali apa yang kamu lakukan, bekerja keras tanpa impian, buat saya…, kamu… hanyalah pembual nomor satu bagi dunia.”
Sebenernya masih banyak kalimat-kalimat atau paragraf yang isinya lumayan nendang. Jika kamu berjiwa nasionalisme, terlebih kamu juga sangat menyukai bulutangkis, maka kamu akan merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan ketika membaca. Bayangan pertandingan bulutangkis yang diceritakan akan tergambar jelas dipikiranmu, mulai dari serve, lop, dropshoot, smash, drive, backhand, dan sebagainya.
Dan jujur saja, saya sampai menangis ketika membaca sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam hati. Terkesan berlebihan memang, tapi itulah, alhamdulillah hati ini masih bisa tergetar.
Oh iya, sama seperti novel Mas Donny sebelumnya, novel ini pun memiliki kekurangan yang sama, yaitu alur cerita yang standar dan monoton di awal cerita, bahkan hampir setengah bagian awal dari novel ini bikin saya berhenti membacanya karena malas, dan gaya penulisannya kurang mengalir. Terlebih di bagian kisah tentang Gusni dan Hary. Kurang greget gitu.
Over all, I recommended you to read this novel!
Kesampingkan cerita kurang gregetnya, dan jangan berpikir akan menyesal jika membeli novelnya seperti yang saya rasakan di awal membaca.
Apa makna ‘2’ dibalik judul novelnya? Temukan lah sendiri jawabannya di akhir cerita :p
“Pernahkah kamu? Berada bersama ribuan saudaramu? Meneriakkan nama bangsamu?”
Ah mampus.
Pengen gue. Bukan hanya meneriakkan nama bangsa bersama, tapi diteriakan atas nama bangsa juga. Cirambay-cirambay deh itu, sampai mewek-mewek :’)
Er Xi and Jiao Qing at the Chengdu Giant Panda Base on September 25.
© Yumikaji15.
Mistakes are the stepping stones to success. — Charles E. Popplestone | wiishuponastar (via quote-book)
If it happened once, it will never happen again. If it happened twice, it will surely happen for the third time. — Paulo Coelho (The Alchemist)
(Source: quote-book)
Satu hal yang membuat saya bergetek-getek hati adalah kemarin, ketika pemilihan pejabat kelas. Mulanya dengan senang hati, saya yang akhirnya lengser juga dari jabatan Ketua Kelas (dari kelas 1 SMA), memimpin musyawarah kelas. Pertanyaan pertama yang paling wajar saya tanyakan adalah, “ada yang mau mencalonkan jadi KM?”
Dan spontan satu-persatu berteriak, “MINDA LAGI AJA, MINDA LAGI!”
Gila.
Saya juga (tepatnya, memang) manusia.
Saya juga bisa (tepatnya, sudah) gila.
Sebenernya terharu juga sih, tapi di sisi lain saya bener-bener ingin nakol kepala mereka satu-satu. Teganya. Huhuhaha
Saya: Ntar tanggal 17 ikut upacara ya, di kampus.
Temen: Upacara apa?
*Tulisan ini tidak bermaksud menyindir atau apalah. Tapi pikir dan rasakan, adakah jiwa nasionalisme dalam diri kalian? Untuk siapa pun.